Menepis tudingan pengabaian selama menunggu jadwal cuci darah, Iwan menegaskan penanganan darurat telah diberikan secara intensif sejak awal kedatangan. Tindakan tersebut mencakup …
BONE BOLANGO — Manajemen RSUD Toto Kabila meluruskan isu viral mengenai seorang pasien yang dikabarkan meninggal dunia akibat terlambat mendapatkan layanan cuci darah (hemodialisis).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan rekam medis resmi, pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis dengan komplikasi multi-organ yang berat.
Direktur RSUD Toto Kabila, Iwan Usman, kepada media mengungkapkan bahwa pasien datang dengan keluhan lemas serta sesak napas akut. Tim medis langsung bergerak cepat melakukan pemeriksaan menyeluruh.
”Hasil diagnosis klinis menunjukkan pasien mengalami radang paru berat (pneumonia skor CURB-65 level 3), anemia berat, dan pemburukan fungsi ginjal mendadak pada gagal ginjal kronis stadium akhir,” jelas Iwan, Selasa (6/10/2026).
Menepis tudingan pengabaian selama menunggu jadwal cuci darah, Iwan menegaskan penanganan darurat telah diberikan secara intensif sejak awal kedatangan. Tindakan tersebut mencakup:
• Pemantauan ketat tanda-tanda vital dan keseimbangan cairan tubuh secara berkala.
• Pemberian terapi oksigen berkelanjutan.
• Pemberian infus cairan khusus ginjal, cairan kristaloid, serta koreksi medikamentosa.
Terkait proses hemodialisis, Iwan menjelaskan bahwa tindakan medis berisiko tinggi tersebut memerlukan tahapan edukasi dan persetujuan keluarga (informed consent). Selama koordinasi dan persiapan fasilitas cuci darah berjalan, tim medis tetap aktif menstabilkan sistem pernapasan dan infeksi paru pasien.
Namun, kondisi klinis pasien mendadak menurun drastis. Saat tim medis bersiap melakukan tindakan penyelamatan darurat, pihak keluarga mengambil keputusan untuk menolak prosedur Resusitasi Jantung Paru (RJP). Pasien dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.30 WITA dengan didampingi keluarga serta perawat jaga.
Pihak rumah sakit menegaskan narasi yang menyebut pasien meninggal semata-mata karena “antre cuci darah” adalah keliru dan mengaburkan fakta medis yang sebenarnya.
RSUD Toto Kabila menyatakan tetap terbuka terhadap evaluasi publik, sembari berkomitmen menjaga etika kerahasiaan medis dan mengedepankan keselamatan pasien dalam setiap penanganan.***
Penulis : Harissusanto Toonawu
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: Klikindonesia













Komentar