BAPPEDA DI ERA PEMERINTAHAN ANTISIPATIF: SAATNYA PERENCANAAN DAERAH MELIHAT MASA DEPAN

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026 - 12:35 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Penulis: Yeny Igirisa

Penulis: Yeny Igirisa

KLIKINDONESIA.CO – Bukan Sekadar Menyusun Dokumen Ketika berbicara tentang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah atau Bappeda, banyak orang mungkin langsung membayangkan dokumen perencanaan, rapat koordinasi, angka-angka anggaran, serta berbagai program pembangunan pemerintah. Padahal, di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, peran Bappeda seharusnya jauh lebih besar daripada sekadar menyusun dokumen perencanaan.

Perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan lingkungan telah menghadirkan tantangan baru bagi pemerintah daerah. Persoalan pembangunan yang dihadapi masyarakat saat ini dapat berubah dalam waktu yang relatif cepat. Karena itu, pemerintah daerah tidak cukup hanya menyelesaikan masalah ketika masalah tersebut telah terjadi. Pemerintah harus memiliki kemampuan membaca perubahan dan mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan muncul.

Di sinilah gagasan pemerintah antisipatif (anticipatory government) menjadi penting.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah antisipatif menempatkan kemampuan memprediksi perubahan, mengidentifikasi risiko, dan mempersiapkan kebijakan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih besar sebagai bagian penting dari tata kelola pemerintahan. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah tidak lagi hanya bersifat reaktif, tetapi mulai bergerak menuju pemerintahan yang proaktif dan berorientasi masa depan.

Mengapa Bappeda Harus Berubah?

Bappeda memiliki posisi strategis dalam proses pembangunan daerah. Lembaga ini menjadi bagian penting dalam mengoordinasikan proses perencanaan pembangunan serta menyusun arah pembangunan daerah.

Namun, perkembangan lingkungan strategis menuntut adanya perubahan dalam menjalankan fungsi tersebut. Perencanaan pembangunan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pola kerja rutin. Diperlukan kemampuan untuk membaca berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan strategis.

Dalam materi kajian mengenai Bappeda, masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses perencanaan pembangunan, seperti sinkronisasi program yang belum optimal, kualitas data perencanaan yang masih perlu diperkuat, keterbatasan inovasi kebijakan, serta belum optimalnya partisipasi berbagai pemangku kepentingan.

Persoalan tersebut menjadi alasan penting bagi Bappeda untuk melakukan transformasi.

Transformasi bukan berarti meninggalkan fungsi utama Bappeda, tetapi memperkuat fungsi tersebut agar lebih sesuai dengan tuntutan pemerintahan modern. Bappeda perlu menjadi lembaga yang mampu menghubungkan berbagai kepentingan pembangunan, mengolah informasi menjadi rekomendasi kebijakan, dan mendorong munculnya inovasi.

Dari Koordinator Menjadi Think Tank Daerah

Ada tiga peran penting yang dapat diperkuat dalam transformasi Bappeda.

Pertama, Bappeda sebagai koordinator pembangunan.

Pembangunan daerah melibatkan banyak aktor. Ada kepala daerah, organisasi perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan kelurahan, masyarakat, akademisi, dunia usaha, serta berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Tanpa koordinasi yang baik, masing-masing sektor dapat berjalan dengan prioritasnya sendiri. Akibatnya, program pembangunan berpotensi tumpang tindih atau tidak saling mendukung.

Bappeda memiliki posisi strategis untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut agar pembangunan daerah memiliki arah dan prioritas yang jelas.

Kedua, Bappeda sebagai think tank daerah.

Bappeda perlu berkembang menjadi pusat analisis kebijakan. Artinya, Bappeda tidak hanya menerima usulan program, tetapi juga mampu menganalisis berbagai persoalan pembangunan berdasarkan data dan kajian.

Keputusan pembangunan yang baik membutuhkan informasi yang baik. Oleh karena itu, data harus menjadi dasar dalam menentukan prioritas pembangunan, bukan sekadar pelengkap dokumen.

Ketiga, Bappeda sebagai inovator pembangunan.

Persoalan baru membutuhkan cara penyelesaian yang mungkin berbeda dari pendekatan sebelumnya. Karena itu, Bappeda perlu mendorong inovasi dalam proses perencanaan maupun kebijakan pembangunan.

Data: Fondasi Pemerintahan Antisipatif

Tidak mungkin membangun pemerintahan antisipatif tanpa data.

Kemampuan pemerintah untuk memprediksi perubahan sangat bergantung pada kualitas informasi yang dimiliki. Data yang akurat dan terkini akan membantu pemerintah memahami kondisi masyarakat, mengenali kecenderungan perubahan, dan menentukan kebijakan secara lebih tepat.

Bagi Bappeda, pemanfaatan teknologi informasi dan sistem data pembangunan menjadi kebutuhan penting. Perencanaan berbasis data memungkinkan pemerintah menyusun program yang lebih sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Dalam sistem perencanaan pembangunan daerah, dokumen seperti RPJPD, RPJMD, dan RKPD memiliki posisi penting sebagai pedoman dalam menentukan arah, tujuan, kebijakan, sasaran, program, dan kegiatan pembangunan.

Namun, kualitas dokumen tersebut pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas proses perencanaannya. Dokumen yang baik harus lahir dari data yang baik, analisis yang kuat, koordinasi yang efektif, serta pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.

Masyarakat Tidak Boleh Hanya Menjadi Objek

Pembangunan daerah pada akhirnya ditujukan untuk masyarakat. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan.

Masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan kebutuhan, memberikan masukan, serta terlibat dalam proses pembangunan. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan collaborative governance, yaitu pandangan bahwa persoalan publik membutuhkan kerja sama berbagai pihak dan tidak dapat diselesaikan pemerintah sendirian.

Kolaborasi dapat melibatkan Bappeda, organisasi perangkat daerah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil. Prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, kesetaraan, dan konsensus menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Dengan kolaborasi, perencanaan pembangunan dapat menjadi lebih terbuka dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan

Transformasi Bappeda tentu bukan pekerjaan yang sederhana. Perubahan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak.

Beberapa faktor yang dapat menjadi kekuatan adalah dukungan pimpinan daerah, regulasi yang memadai, sumber daya manusia yang kompeten, pemanfaatan teknologi informasi, serta kolaborasi lintas sektor.

Di sisi lain, masih terdapat tantangan seperti keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, kualitas data yang belum optimal, ego sektoral antar-OPD, keterbatasan anggaran, serta budaya inovasi birokrasi yang belum maksimal.

Tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankan pola kerja lama. Justru tantangan tersebut harus menjadi dasar untuk memperkuat kapasitas kelembagaan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat peran Bappeda dalam pendekatan pemerintahan antisipatif.

Pertama, meningkatkan kompetensi aparatur perencana. Aparatur membutuhkan kemampuan dalam perencanaan strategis, analisis kebijakan, pengelolaan data, serta manajemen pembangunan.

Kedua, membangun sistem informasi pembangunan yang terintegrasi. Sistem tersebut dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data dan bukti.

Ketiga, memperkuat koordinasi lintas sektor. Ego sektoral harus dikurangi agar setiap program pembangunan dapat saling mendukung.

Keempat, mendorong budaya inovasi dalam birokrasi. Aparatur harus diberikan ruang untuk menghasilkan gagasan dan pendekatan baru dalam menyelesaikan persoalan pembangunan.

Kelima, memperkuat orientasi jangka panjang. Setiap kebijakan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan saat ini, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat dan pembangunan di masa depan.

Materi kajian juga menekankan pentingnya pengembangan kapasitas aparatur, pembangunan sistem informasi pembangunan yang terintegrasi, penguatan kolaborasi, dan pembangunan budaya inovasi dalam perencanaan daerah.

Penutup: Perencanaan Harus Melihat ke Depan

Transformasi Bappeda melalui pendekatan pemerintah antisipatif bukan sekadar perubahan cara kerja organisasi. Lebih dari itu, transformasi merupakan perubahan cara berpikir dalam melihat pembangunan daerah.

Pemerintah daerah harus mulai bertanya bukan hanya “apa masalah yang kita hadapi hari ini?”, tetapi juga “perubahan apa yang mungkin terjadi besok dan bagaimana kita mempersiapkannya?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembangunan daerah berlangsung dalam lingkungan yang terus berubah.

Bappeda memiliki posisi strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan memperkuat peran sebagai koordinator pembangunan, think tank daerah, dan inovator pembangunan, Bappeda dapat berkontribusi dalam menghasilkan perencanaan yang lebih adaptif, responsif, dan berorientasi masa depan.

Pada akhirnya, keberhasilan perencanaan pembangunan tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya dokumen yang berhasil disusun atau anggaran yang berhasil direalisasikan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah perencanaan tersebut mampu menghasilkan kebijakan yang tepat, pembangunan yang berkelanjutan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sudah saatnya Bappeda tidak hanya merencanakan pembangunan untuk hari ini, tetapi juga mempersiapkan daerah untuk menghadapi masa depan.

Referensi

Fuerth, L. S. & Faber, E. M. (2012). Anticipatory Governance: Practical Upgrades. Foresight Journal.

Healey, P. (2006). Collaborative Planning: Shaping Places in Fragmented Societies. Palgrave Macmillan.

Riyadi & Bratakusumah. (2012). Perencanaan Pembangunan Daerah. Jakarta: Gramedia.

Sedarmayanti. (2018). Perencanaan dan Pengembangan SDM untuk Meningkatkan Kompetensi. Bandung: Refika Aditama.

Siagian, S. P. (2005). Manajemen Stratejik. Jakarta: Bumi Aksara.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

 

Penulis : Harissusanto Toonawu

Editor : Mahmud Marhaba

Sumber Berita: Klikindonesia

Follow WhatsApp Channel gorontalo.klikindonesia.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hanya Kadin Bone Bolango yang Tak Aklamasi, Fikal Uloli Keluar Jadi Pemenang
Terpilih Aklamasi Nakhodai KADIN Kabupaten Gorontalo, Rais Nango: Tugas Kita Kerja Nyata, Bukan Polarisasi
Koperasi GASS Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Fikal Uloli Nakhodai Kadin Bone Bolango
Polemik Rekomendasi Kepala Daerah di Musyawarah KADIN: Mitra Strategis, Bukan Penentu Mandat Internal
Fikal Uloli Pimpin Kadin Bone Bolango, Andi Ilham: Nahkoda Baru, Energi Baru untuk Pertumbuhan Ekonomi
Terpilih Nakhodai Kadin Bone Bolango, Fikal Uloli Disebut Bawa Kemenangan bagi Pengusaha Lokal
Terpilih Aklamasi Nakhodai Kadin Gorut, Hendra Nurdin Siap Gas Pol Ekonomi Daerah dan Solid Dukung Andi Ilham
Rivel Pagau Pimpin Kadin Boalemo, Andi Ilham: Ukuran Pemimpin Ada pada Kapasitas, Bukan Relasi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 12:35 WIB

BAPPEDA DI ERA PEMERINTAHAN ANTISIPATIF: SAATNYA PERENCANAAN DAERAH MELIHAT MASA DEPAN

Minggu, 13 September 2026 - 12:32 WIB

Hanya Kadin Bone Bolango yang Tak Aklamasi, Fikal Uloli Keluar Jadi Pemenang

Minggu, 13 September 2026 - 11:46 WIB

Terpilih Aklamasi Nakhodai KADIN Kabupaten Gorontalo, Rais Nango: Tugas Kita Kerja Nyata, Bukan Polarisasi

Minggu, 13 September 2026 - 10:26 WIB

Koperasi GASS Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Fikal Uloli Nakhodai Kadin Bone Bolango

Minggu, 13 September 2026 - 09:23 WIB

Polemik Rekomendasi Kepala Daerah di Musyawarah KADIN: Mitra Strategis, Bukan Penentu Mandat Internal

Berita Terbaru