GORONTALO – Di tengah semua element masyarakat, tokoh agama , tokoh akademik, aparat penegak hukum berupaya untuk menetralisir suasana yang gaduh dan panas yang dipicu oleh beberapa pernyataan anggota DPR RI dan kasus ojol yang tewas, di Gorontalo justru ada dugaan Walikota Gorontalo memanas manasi pendemo.
“Harus didemo ini Pak Gubernur,” ujar pak wali disalah satu mediaonline.
Walikota juga mengungkapkan bahwa gelombang protes tidak akan berhenti di level mahasiswa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hari ini mahasiswa, besok bisa saja rakyat lebih banyak lagi yang turun. Pernyataan seperti ini bisa memicu konflik horizontal lebih luas dimana daerah kita aman, damai dan tertib akan terganggu.
Sebagai pimpinan kepala daerah, ia sebaiknya mengambil bagian untuk menenangkan suasana bukan justru menjadi api pemicu terbakarnya api amarah para demonstran.
Jika keamanan dan ketertiban Gorontalo terganggu dan cheos sebagaimana yang terjadi di Makasar atau daerah lain maka yang paling bertanggung jawab adalah walikota. Mengapa? karena ia telah terlibat langsung memprovokasi mahasiswa dan masyarakat.
Kekhawatiran itu sebagaimana dikemukakan Imran Bakari, salah satu aktivis mahasiswa di Gorontalo.
“Masalah sebenarnya di picu oleh suara suara sumbang DPR RI yang hedonis dan elitis serta terbunuhnya salah satu ojol, tidak ada hubungannya dengan masalah daerah apalagi dengan gubernur,” ujarnya.
Tolong aksi mahasiswa jangan di tarik tarik kewilayah personal, sambungnya lagi.
Masalah kita murni masalah nasional bukan masalah daerah, maka ungkapan Walikota Gorontalo, “demo saja itu gubernur” berpotensi menjadi api pemicu anarkisme mahasiswa dan rakyat.
Mestinya Walikota mengabaikan sentimen pribadi dan fokus membantu POLRI/TNI mendamaikan suasana bukan menjadi pemicu masalah.
“Jangan memancing di air yang keruh. Kasian polisi, TNI dan masyarakat telah menjadi korban akibat ucapan para pejabat yang tidak terkontrol,” ucapnya.
Untuk saat ini demonstrasi yang dilakukan secara nasional bertajuk bubarkan DPR telah menelan satu korban dari ojol dan 3 orang staf kantor DPRD Makassar serta terbakarnya kantor DPRD di Sulawesi selatan dan NTB.
Aparat TNI dan kepolisian sementara berupaya keras untuk menenangkan masa.
Hingga berita ini dirilis, belum ada konfirmasi dan klarifikasi dari pihak Walikota Adhan Dambea.*[]
Penulis : Harissusanto Toonawu
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: Klikindonesia











