“Pembangunan daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Ini kerja kolektif kita bersama—pemerintah, DPRD, masyarakat, dan pemuda memiliki peran masing-masing yang …”
BONE BOLANGO, KLIKINDONESIA.CO — Generasi muda diimbau untuk tidak sekadar menjadi penonton atau berhenti pada tataran wacana dalam pembangunan daerah. Pemuda dituntut berani mengambil peran konkret, mulai dari mengawal kebijakan hingga menawarkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penegasan tersebut disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Bone Bolango, Rizki Huntoyungo, dalam forum diskusi yang digelar Aliansi Pemuda Pemerhati Daerah di Bone Bolango, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan bertajuk “Peran Pemuda Dalam Transformasi Pembangunan Daerah Terwujud Cinta Untuk Negeri” itu menjadi ajang konsolidasi berbagai elemen pemuda lokal yang menaruh perhatian besar terhadap arah pembangunan daerah.
Dalam paparannya, Rizki menekankan bahwa kemajuan suatu daerah mustahil terwujud jika seluruh beban pembangunan hanya ditumpukan ke pundak pemerintah.
“Pembangunan daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Ini kerja kolektif kita bersama—pemerintah, DPRD, masyarakat, dan pemuda memiliki peran masing-masing yang harus berjalan beriringan,” tegas Rizki.
Menurutnya, pemuda memegang posisi strategis sebagai motor penggerak perubahan (agent of change). Modal utama seperti energi, kreativitas, idealisme, serta keberanian bersuara harus dioptimalkan untuk menjawab tantangan zaman. Ia juga menepis anggapan usang yang selalu memposisikan pemuda sekadar “pemimpin masa depan”.
“Pemuda hari ini bukan lagi sekadar calon pemimpin esok hari. Ruang untuk memimpin dan berkontribusi nyata sudah terbuka lebar sejak saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rizki mengajak generasi muda Bone Bolango untuk terus mengasah kapasitas diri dan tidak ragu menyuarakan kritik yang objektif. Baginya, fungsi kontrol dari pemuda adalah napas demokrasi yang menjaga agar kebijakan publik tetap berpihak pada rakyat.
“Pemuda harus berani mengkritisi ketika ada program yang melenceng atau perlu dibenahi. Namun, kritik itu harus konstruktif—disertai data, gagasan, dan solusi alternatif,” imbuhnya.
Menutup arahannya, ia berpesan agar nasionalisme dan kecintaan terhadap Bone Bolango tidak sebatas jargon seremonial. Kontribusi nyata lewat karya, advokasi sosial, dan keberanian memperjuangkan kepentingan publik menjadi bukti cinta yang sesungguhnya bagi kemajuan daerah.*[]
Penulis : Harissusanto Toonawu
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: Klikindonesia













Komentar