GORONTALO – Memasuki tahun 2026, agenda pembangunan daerah menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi hingga ketimpangan akses ekonomi. Dalam konteks ini, Koperasi Global Akses Sejahtera (GASS) tampil sebagai contoh praktik pembangunan alternatif yang memadukan pendekatan ekonomi kerakyatan dengan transformasi digital berbasis partisipasi masyarakat.
Digitalisasi tidak lagi dipahami sebatas modernisasi perangkat, melainkan sebagai instrumen pembangunan inklusif. Koperasi GASS menempatkan akses internet sebagai kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, guna mengurangi kesenjangan informasi sekaligus membuka ruang baru bagi pendidikan, layanan publik, dan aktivitas ekonomi produktif.
Dalam perspektif ekonomi daerah, penguatan UMKM menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi lokal. Melalui pendampingan berkelanjutan, Koperasi GASS mendorong pelaku usaha kecil untuk beradaptasi dengan ekosistem digital tanpa kehilangan akar sosialnya. Pendekatan ini memperkuat daya saing sekaligus melindungi UMKM dari tekanan pasar yang semakin terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Upaya digitalisasi tata kelola fiskal, khususnya pajak dan retribusi daerah, menjadi langkah strategis berikutnya. Transparansi berbasis sistem digital diyakini mampu meningkatkan kepercayaan publik serta mendorong optimalisasi pendapatan daerah, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas layanan dan fasilitas publik.
Di balik gagasan dan praktik tersebut, sosok Bahrun Usman, S.Fil.I muncul sebagai figur yang fenomenal dalam lanskap transformasi digital daerah. Tanpa berada dalam struktur legislatif maupun birokrasi formal, ia menunjukkan bahwa peran strategis dalam pembangunan dapat dijalankan melalui kepemimpinan sosial, konsistensi gagasan, dan keberanian mengambil inisiatif.
Bahrun tidak hanya memikirkan kepentingan komunitas atau wilayah administratif tertentu, tetapi memandang pembangunan digital sebagai agenda bersama masyarakat Provinsi Gorontalo. Pendekatan lintas wilayah dan lintas sektor ini mencerminkan visi pembangunan yang melampaui kepentingan jangka pendek dan menempatkan masa depan sebagai orientasi utama.
Tahun 2026 menghadirkan harapan besar sekaligus tantangan nyata. Perubahan teknologi yang cepat, resistensi sosial terhadap inovasi, serta keterbatasan sumber daya manusia menjadi ujian yang harus dihadapi secara kolektif. Namun di sisi lain, momentum ini membuka peluang lahirnya generasi baru inovator, penggerak komunitas, dan pemimpin sosial dari berbagai latar belakang.
Pengalaman dan keteladanan Bahrun Usman memberikan pesan penting bahwa sejarah tidak hanya diukir oleh mereka yang berada di pusat kekuasaan, tetapi juga oleh individu dan komunitas yang bekerja dengan gagasan, integritas, dan keberpihakan pada rakyat. Tahun baru 2026 menjadi ruang terbuka bagi generasi lintas sektor untuk berkontribusi, berkolaborasi, dan meninggalkan jejak perubahan yang bermakna.
Dengan sinergi antara teknologi, semangat gotong royong, dan kepemimpinan visioner, transformasi digital tidak sekadar menjadi tren, tetapi jalan menuju kemandirian daerah. Harapannya, semakin banyak sosok dan komunitas yang terinspirasi untuk mengukir sejarah pembangunan seperti yang telah dirintis oleh Bahrun Usman.*[]
Penulis : Harissusanto Toonawu
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: Klikindonesia











