Meski menuju kemandirian, Faisal mengingatkan bahwa RSUD Tombulilato tetap memerlukan dukungan penuh dari pemerintah daerah. Transformasi ini membutuhkan sinergi yang kuat agar proses peralihan tidak mengganggu pelayanan yang sedang berjalan, [F. Tim Komisi III DPRD Bone Bolango].
BONE BOLANGO – Upaya RSUD Tombulilato untuk bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) kini memasuki babak krusial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perubahan status ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah langkah besar untuk mewujudkan fasilitas kesehatan yang mandiri dengan kualitas layanan yang lebih prima bagi masyarakat.
Sebagai bentuk keseriusan, pihak RSUD Tombulilato menggandeng Komisi III DPRD Bone Bolango dalam agenda kaji banding ke RSUD Hasri Ainun Habibie pada 11–12 Mei 2026. Langkah ini diambil untuk mendalami tata kelola BLUD yang efektif dan akuntabel.
Transformasi ini merujuk pada amanat Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang mewajibkan rumah sakit pemerintah daerah berbentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) dengan Pola Pengelolaan Keuangan (PPK) BLUD.
Kegiatan kaji banding yang dibiayai melalui DPA RSUD Tombulilato Tahun Anggaran 2026 tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran konkret mengenai fleksibilitas pengelolaan keuangan dan operasional yang menjadi ciri khas BLUD.
Ketua Komisi III DPRD Bone Bolango, Faisal Mohie, menegaskan komitmennya untuk mengawal penuh proses transisi ini. Menurutnya, status BLUD adalah kunci bagi rumah sakit untuk bergerak lebih lincah dalam merespons kebutuhan pasien.
“Proses menuju BLUD ini harus berjalan maksimal. Ini bukan sekadar perubahan administrasi semata, tapi sebuah upaya mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Bone Bolango,” ujar Faisal kepada Ulanda.id.
Faisal menambahkan, dengan sistem BLUD, rumah sakit akan memiliki otonomi yang lebih luas dalam mengelola sumber daya. Hal ini diyakini akan berdampak langsung pada kecepatan dan ketepatan penanganan medis di lapangan.
“Jika sudah resmi menjadi BLUD, kami pastikan akan ada peningkatan signifikan terhadap pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” lanjutnya.
Meski menuju kemandirian, Faisal mengingatkan bahwa RSUD Tombulilato tetap memerlukan dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Transformasi ini membutuhkan sinergi yang kuat agar proses peralihan tidak mengganggu pelayanan yang sedang berjalan, melainkan justru memperkuat fondasi kesehatan di daerah tersebut.*[]
Penulis : Harissusanto Toonawu
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: Klikindonesia











