GORONTALO,KLIKINDONESIA — Sebuah insiden dugaan kekerasan terjadi di lingkungan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Gorontalo. Seorang aktivis mahasiswa berinisial WP, mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan berupa tamparan dari oknum staf pegawai BKD berinisial A, saat berlangsung diskusi terkait nasib Guru Honorer Non Database, Selasa (16/12/2025).
Peristiwa tersebut terjadi di ruang rapat Kantor BKD Provinsi Gorontalo ketika mahasiswa menyampaikan aspirasi dan mempertanyakan kejelasan status serta kebijakan bagi guru honorer non database. Diskusi yang semula dimaksudkan sebagai ruang dialog itu justru berubah menjadi situasi tegang setelah salah satu staf BKD diduga melakukan penamparan terhadap aktivis mahasiswa.
Yang menjadi sorotan, kejadian itu disebut berlangsung di hadapan Kepala BKD Provinsi Gorontalo. Namun, menurut keterangan korban, tidak ada teguran, upaya peleraian, maupun tindakan tegas dari pimpinan instansi terhadap staf yang diduga melakukan kekerasan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tindakan kekerasan itu dilakukan di depan pimpinan. Tapi tidak ada teguran, tidak ada klarifikasi, seolah-olah hal itu wajar terjadi,” ungkap WP kepada awak media.
Mahasiswa menilai pembiaran tersebut sebagai persoalan serius yang tidak hanya menyangkut perilaku individu, tetapi juga mencerminkan lemahnya kepemimpinan dan penegakan etika aparatur sipil negara. Mereka menyebut, ruang resmi pemerintahan seharusnya menjadi tempat yang aman dan beradab untuk berdialog, bukan arena intimidasi.
“Kami datang menyampaikan aspirasi secara baik-baik. Kalau kekerasan dibiarkan terjadi di ruang publik pemerintahan, ini menjadi preseden buruk bagi demokrasi dan pelayanan publik,” ujar salah satu aktivis mahasiswa lainnya.
Mahasiswa juga menegaskan Kepala BKD Provinsi Gorontalo perlu dimintai pertanggungjawaban moral dan administratif atas insiden tersebut. Menurut mereka, pimpinan instansi memiliki kewajiban memastikan lingkungan kerja bebas dari kekerasan dan intimidasi.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi sudah dilakukan awak media KlikIndonesia kepada Kepala BKD Provinsi Gorontalo melalui sambungan telepon WhatsApp dan pesan singkat namun belum mendapatkan tanggapan.
Korban bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa mendesak adanya klarifikasi resmi serta penuntasan kasus dugaan kekerasan tersebut. Mereka menuntut pertanggungjawaban staf yang terlibat dan langkah tegas dari pihak berwenang agar kejadian serupa tidak terulang.*[]
Penulis : NOVI PAPUTUNGAN
Editor : MAHMUD MARHABA
Sumber Berita: KLIK INDONESIA











